Senin, 29 Oktober 2012

SOSIOLOGI GENDER


Modul : 1
Pengertian Gender dan Sosialisasi Gender.
Kegiatan Belajar : 1
A.    Pengertian Gender.

Dalam memahami pengertian gender kita harus membedakan antara gender dan jenis kelamin. Secara  biologis jenis kelamin ditentukan oleh jumlah kromosom yang ada pada saat pembuahan. Simon Beauvoir dalam bukunya “the second sex” (1975) menyatakan bahwa jenis kelamin ditentukan oleh kromosom. Hegel dalm “philosophy of nature” menuturkan bahwa kedua sel kelamin ini tetap berbeda dimana laki-laki adalah makluk yang aktif dan perempuan makluk yang pasif karena ia tetap berkembang dalam kesatuanya.
Simon Beauvior menjelaskan bahwa “laki-laki” dinamai self (diri) dan perempuan dinamai others (liyan). Hal ini dapat diartikan bahwa secara budaya perempuan tidak esensial dan laki-laki esensial. Jary and Jary dalam “Dictionary of Sociology” menyatakan bahwa gender memiliki dua pengertian :
1.      Kata gender biasa digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan anatomi jenis kelamin.
2.      Para sosiolog dan psikolog mengartikan gender kedalam pembagian “masculine” dan “feminine” berdasarkan atribut yang melekat secara sosial dan psikologi sosial.
Para Antropolog memaknai gender secara kultural dan historis seperti makna, interpretasi dan ekspresi dari kedua varian diantara berbagai kebudayaan.
Dalam konsep gender melekat sifat-sifat yang dikonstruksi secara sosial misal laki-laki dianggap kuat, agresif dan rasional. Konstruksi sosial yang membedakan sifat laki-laki dan perempuan.

B.     Perbedaan Gender.

Perbedaan secara fisik dan kemudian ditarik ke perbedaan secara sosial budaya menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan secara psikologis. Apakah perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan juga diwariskan secara alami ?.
Pengikut teori nature berpandangan bahwa perbedaan psikologis disebabkan oleh faktor biologis sedangkan pengikut teori nurture menyatakan bahwa perbedaan ini terbentuk karena proses belajar melalui lingkungan hidupnya.
Maria Mies mengemukakan bahwa pembagian kerja laki-laki dan perempuan sangat bersifat patriarkat karena didasarkan pada pemisahan struktur dan subordinasi manusia  yaitu laki-laki terpisah dengan perempuan dimana perempuan pada posisi subordinasi. Menurut Blood dan Wolfe dalam bukunya “Husband and wives” berpendapat bahwa  pembagian kerja berdasarkan sex ada dua pola yaitu pola tradisional dan pola kontemporer. Dalam konsep tradisional perempuan bekerja didalam rumah sedangkan dalam konsep kontemporer suami istri bekerja sama saling komplementer.
Konstruksi sosial gender yang  berkembang secara evolusional dan diperkuat dengan ajaran agama telah mempengaruhi secara biologis, misal perempuan telah dikonstruksi bersifat lemah lembut maka perempuan dididik dan disosialisasi sesuai sifat gender yang ditentukan masyarakat.

C.       Peran Gender

Terdapat perbedaan antara peran dan status dimana peran menunjukan penampilan (aktif) sedangkan status menunjukan posisi (pasif). Peran gender laki-laki diwariskan dari status biologisnya yang memiliki fisik kuat sehingga ditugaskan pada pekerjaan sektor publik (diluar rumah). Bagi perempuan aktifitas mengandung dan melahirkan merupakan aktifitas alamiah tetapi bagaimana dengan peran sebagai ibu rumah tangga ?
Menurut Julia Cleves Mosse istilah “ibu” adalah istilah sosial yang  menjadi milik bahasa dan dikonstruksi oleh manusia. Selanjutnya Mosse menyatakan bahwa istilah “ibu rumah tangga” dalam masyarakat industri memiliki makna sebagai konsumen. Sebelumnya rumah tangga sebagai tempat produksi tetapi dengan perkembangan industri maka proses produksi diambil alih oleh pabrik dan rumah tangga sebagai konsumen.
Zaretsky (1976) menjelaskan bahwa pada masyarakat kapitalis sektor masyarakat dikaitkan dengan sistem pasar tetapi rumah tangga merupakan sektor pribadi yang tidak dicampuri sistem pasar sehingga perempuan yang bekerja disektor rumahtangga tidak memiliki nilai pasar sehingga secara ekonomis maupun psikologis perempuan tergantung pada laki-laki.


Kegiatan Belajar : 2                Sosialisasi Gender

A.    Sosialisasi Gender dalam kelompok primer

Charles Horton Cooley menyatakan bahwa karakteristik dari kelompok primer adalah: intim, face to face dan kerja sama. Disamping itu juga keharmonisan dan kecintaan. Kelompok primer meliputi : keluarga, kerabat dan ketetanggaan.
Menurut Jessie Bernard dalam bukunya “female world” (1981) laki-laki dan perempuan masuk ke dunia yang berbeda dalam satu komonitas yang sama (tunggal) yaitu dunia pink (pink world) bagi perempuan  dan dunia biru (blue world)  bagi lak-laki. Pembedaan “dunia” ini juga berpengaruh terhadap pola asuh anak dalam keluarga. Hal ini menggambarkan bahwa perbedaan peran gender yang terjadi dalam masyarakat diakibatkan oleh proses sosialisasi yang salah satunya sosialisasi dalam keluarga (kelompok primer). Keluarga merupakan tempat sosialisasi awal dimana anak akan menerima dan mengadopsi nilai yang diberikan orang tuanya. Proses  pembedaan gender tidak berhenti pada lingkup keluarga saja tetapi juga pada lembaga sosialisasi selanjutnya seperti teman sepermainan, sekolah dan lingkungan kerja.

B.     Sosialisasi Gender pada kelompok sekunder.

Sosialisasi sekunder misalnya :  komunitas tempat kerja, kelompok hobi / olah raga, organisasi formal, dll. Pada umumnya perempuan banyak terserap pada pasar tenaga kerja sekunder yang sesuai dengan kodrat perempuan. Faktor penyebabnya menurut Walby adalah
1.      Kemampuan kerja perempuan rendah.
2.      Secara sosial perempuan berbeda dengan laki-laki.
3.      Perempuan memiliki komitmen rendah dalam hal karier.
4.      Perempuan dinilai tidak terlalu berambisi mengejar upah tinggi.
Hal diatas menggambarkan bahwa “female world”  tetap berbeda dengan “male world” artinya ada ranah yang memang tidak bisa dimasuki oleh perempuan demikian sebaliknya. Jika ada peran gender yang tidak sesuai dengan konstruksi sosial maka akan di kategorikan sebagai perilaku menyimpang.



Modul : 2

Ketidak adilan dan Kekerasan Gender

Kegiatan Belajar  : 1

A.    Marginalisasi Perempuan

Perbedaan peran gender adalah ketika laki-laki dan perempuan menjalankan peran sesuai dengan konstruksi masyarakat berdasarkan pemahaman gender misal laki-laki menjalankan peran public ( diluar rumah ) dan perempuan menjalankan peran domestic (di dalam rumah ). Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur sosial dimana laki-laki maupun perempuan akan menjadi korban dari sistem tersebut sebagai akibat konsep masyarakat terhadap gender contoh perempuan hanya diberi peran pelengkap  (subordinat) dan laki-laki diberi peran utama (ordinat).
Menurut Mansour Fakih ketidakadilan gender lainya adalah marginalisasi (pemiskinan) ekonomi, suordinasi politik, pembentukan stereotipe (pelabelan) negatif terhadap perempuan, kekerasan, beban kerja serta sosialisasi ideologi peran gender.
Dalam konteks gender marginalisasi memiliki arti akibat dari pemahaman terhadap jenis kelamin tertentu menyebabkan posisinya termarginalisasi sehingga manjadi miskin. Pada wilayah ekonomi marginalisasi terlihat pada keterbatasan dalam mengakses dan berpartisipasi dalam sumberdaya ekonomi,kesempatan kerja dan modal. Kesimpulanya marginalisasi perempuan disebabkan oleh :
1.      Pemahaman bahwa wilayah kerja perempuan adalah wilayah domestik sedang wilayah publik milik laki-laki.
2.      Adanya budaya patriarkhi yang menempatkan laki-laki lebih superior dari perempuan.

B.     Sub ordinasi perempuan.

Peran perempuan pada posisi sub ordinat artinya posisi perempuan sebagai pelengkap terhadap posisi laki-laki sebagai pemegang posisi ordinat. Posisi sub ordinat perempuan dapat dilihat pada :
1.      Pengambilan keputusan dalam keluarga dimana laki-laki (suami) sebagai pengambil keputusan.
2.      Dalam tatanan sosial budaya masyarakat ada kecenderungan lebih mengutamakan laki-laki (prinsip patriakhi).
3.      Pada wilayah hukum dan politik sub ordinasi perempuan terjadi pada akses dan partisipasi hukum dan politik. Banyak peraturan yang bersifat diskriminatif gender.

C.  Stereotipe Perempuan.

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu yang disebabkan oleh pemahaman sifat fisik yang nampak maupun dari sudut pandang gender. Segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan akan menimbulkan ketidakadilan.

Kegiatan Belajar : 2    Kekerasan Gender.

Kekerasan yang berbasis gender adalah kekerasan yang dilakukan karena pemahaman masyarakat terhadap jenis kelamin tertentu dianggap lebih kuat atau lebih lemah. Kekerasan gender muncul diakibatkan oleh ketidaksetaraan kekuatan gender yang ada dalam masyarakat. Macam-macam kekerasan gender :
1           Kekerasan secara fisik.
2           Kekerasan gender secara psikologis.
               Kekerasan gender secara simbolis.
Kekerasan yang disebabkan bias gender disebut : gender-related violence. Sedangkan kekerasan simbolik menurut Yasraf A  Piliang (2002) adalah bagaimana bentuk dan cara sebuah realitas kekerasan dipresentasikan didalam berbagai media dan presentasi tersebut merupakan bentuk kekerasan. Dalam konteks media pemberitaan terdapat dua bentuk kekerasan simbol :
1.      Kekerasan dalam mekanisme simbol yaitu relasi sosial politik atau ideologis dibalik simbol.
2.      Kekerasan pada makna simbol dan tanda bahasa yang digunakan.
Kekerasan pada mekanisme simbol berupa pemaksaan simbol dan maknanya dengan memanfaatkan otoritas kekuasaan sedangkan kekerasan pada makna / isi simbol berupa “agresifitas” yang terkandung dalam simbol tersebut misal dalam bentuk tulisan, gambar, bahasa verbal, film, game yang mendung muatan kekerasan gender.

Modul  : 3
Teori Sosiologi tentang Gender

Kegiatan belajar :1      Teori Fungsional tentang gender.

A.    Teori Fungsional : Talcott Parsons.
Perbedaan gender memberi konstribusi dalam integrasi masyarakat tradisional. Perempuan memelihara kohesi internal rumah tangga sedangkan laki-laki menghubungkan keluarga dengan dunia yang lebih luas terutama melalui partisipasi dunia kerja (Macionis, 1999). Menurut Parsons peran laki-laki yang demikian itu dinamakan : instrumental.
Selanjutnya Parsons menjelaskan bahwa masyarakat menjalankan perilaku gender melalui variasi alat-alat kontrol sosial misal orang akan masuk dalam definisi kultural gender yang memproduksi identitas gender yang akan dimiliki oleh mereka artinya sejak lahir mereka sudah memiliki fondasi tentang peran yang akan dijalani dalam masyarakat. Kultur merupakan kekuatan utama yang mengikat sistem tindakan disamping itu kultur juga menengahi interaksi antar aktor, mengintgrasikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. Jadi didalam sistem sosial, sistem diwujudkan dalam nilai dan norma serta sistem kepribadian (Ritzer,2004). Norma kultur terinternalisasi pada aktor dan terinstitusionalisasi pada sistem sosial artinya pengaturan kebutuhan individu dipengaruhi oleh orientasi dan harapan peran.
Kesimpulan, analisis struktural fungsional menekankan bagaimana maskulinitas dan feminitas didefinisikan secara komplementer.

B.     Teori Fungsional : Miriam Johnson.

Hal yang penting bagi teoritisi fungsional dalam memahami gender adalah bagaimana aplikasi pandangan Johnson atas konsep Parsons. Johnson mengkaji temuanya tentang ketimpangan gender dalam struktur keluarga patriarkhis. Gender terintegrasi kedalam masyarakat baik secara kultur maupun moralitas. Di Indonesia norma tradisional juga memperkuat dan melanggengkan fungsi-fungsi komplementer perempuan dan laki-laki saling melengkapi.

Kegiatan Belajar  : 2  Teori Konflik tentang Gender.

Analisis teori konflik  tentang gender berpusat pada isu kekuasaan akibat adanya realitas perbedaan gender secara historis yang menguntungkan laki-laki. Sistem patrarkhi yang menempatkan perempuan sebagai subyek yang terdiskriminasi. Dalam pandangan teori konflik gender bukan dipandang sebagai kohesi sosial tetapi sebagai konflik sosial dimana pihak laki-laki memproteksi hak istimewa sedangkan perempuan melawan status quo. Hal ini berarti peran laki-laki dan perempuan tidak saling melengkapi.

A.    Teori Konflik tentang Keluarga ( Engels ).
Friedrich Engelsdalam bukunya :” The Origin pf the family, Private propertyand the State (1884). Engels menyatakan bahwa sistem kapitalisme yang mengintensifkan dominasi laki-laki, sebab :
1.      Kapitalisme menciptakan kesejahteraan dengan memberdayakan laki-laki.
2.      Perluasan ekonomi kapitalis tergantung pada definisi perempuan sebagai konsumen.
2.      Mendukung laki-laki bekerja dipabrik dan perempuan bekerja di rumah.
    Munculnya kapitalisme dan patriarkhi ini membuat laki-laki mendominasi perempuan disegala bidang. Engels menganalisis kehidupan masyarakat kapitalis primitif sampai kapitalisme awal. Pada masa ini perempuan banyak berkerja disektor domestik akibatnya perempuan tidak memiliki nilai pasar karena sistem kapitalisme berkaitan dengan sistem pasar.

A.    Teori Konflik : Stratifikasi Jenis Kelamin Collins.

    Collins mempertanyakan mengapa stratifikasi jenis kelamin masih eksis ? jawaban dari pertanyaan ini berdasarkan dua fakta :
1.      Manusia memiliki dorongan yang kuat untuk gratifikasi seksual.
2.      Pada spesies manusia laki-laki lebih besar dan lebih kuat dari perempuan.
Perbedaan teori konflik Marx dan Collins :

                      Marx                                                                               Collins









Collins menawarkan konsep untuk memperbaiki posisi perempuan :
1.      Bagaimana cara kekuatan dapa diorganisir.
2.      Masyarakat memberlakukan perempuan dapat berusaha dalam bidang ekonomi dan ada kesimbangan kekuasaan berdsasarkan jenis kelamin.
Pekerjaan berkaitan dengan uang dan uang merupakan sumber utama prestise dan kekuasaan dalam masyarakat. Selain persoalan prestise dan kekuasaan, perempuan juga memiliki hak istimewa (privilege).
B.     Teori Konflik Analitik dari Chafetz.
Janet Chafetz menggunakan pendekatan lintas kultural dan lintas historisserta merumuskan teori gender dalm seluruh pola-pola kemasyarakatan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar